MAGELANG - Sebagai salah satu unit pelaksana tehnis (UPT) pusat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Balai Konservasi Borobudur memegang peran yang sangat strategis dalam konservasi cagar-cagar budaya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 55 Tahun 2012, Balai Konservasi Borobudur mempunyai tugas pokok melaksanakan kajian di bidang konservasi, tehnik sipil, arsitektur, geologi, biologi, kimia, arkeologi, dan melaksanakan pelatihan tenaga teknis konservasi serta perawatan Borobudur dan peninggalan purbakala lainnya.

Menurut kepala Balai, Marsis Sutopo saat ditemui pada saat perayaan Hari Raya Waisak di candi Borobudur, Magelang (25/05), Balai juga melakukan bimbingan tehnis kepada konservator, pemugar, dokumentator, satpam khusus cagar budaya warisan dunia, termasuk bimbingan teknis dalam penanggulangan bencana yang terjadi di daerah cagar budaya, dan lain sebagainya.

Selain itu, Balai secara langsung merawat dan memelihara Candi Borobudur yang dinobatkan oleh UNESCO sebagai  warisan dunia, serta Candi Mendut dan Pawon. "Termasuk memantau kawasan warisan budaya hingga radius 10 km. Secara keruangan, kawasan Borobudur diatur Kementerian Pekerjaan Umum sebagai kawasan strategis nasional," ujar Marsis.

Perawatannya pun harus sesuai dengan standar warisan dunia. Oleh karena itu, Balai juga harus melakukan menjaga keterawatan (state of conservation) sesuai dengan konvensi internaisonal standar UNESCO untuk warisan dunia.

"Warisan budaya dunia harus mempunyai outstanding universal value. Kita harus menjaga keaslian dan integritas cagar budaya tersebut. Tidak boleh dibongkar dan diganti barang baru. Karena itu integritas harus dijaga," tegas Marsis.

Dalam hal pemantauan dan monitoring kawasan candi, Balai bertanggung jawab terhadap Zona I. Untuk zona di luar Zona I dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dalam operasional nya dilaksanakan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Dilihat dari posisi candi Borobudur, dalam konteks pemanfaatan pariwisata diarahkan kepada wisata edukatif dan pemanfaatan fungsi ekonomi. "Tujuannya agar dapat membudayakan manusia, menyejahterakan masyarakat sekitar. Jadi, diharapkan kita semakin menghargai kebudayaan," jelasnya.

Adapun program-program sosialisasi mengenai Borobudur dan hal-hal yang melingkupinya kepada masyarakat, diantaranya melalui studio restorasi, pameran-pameran, program apresiasi candi melalui lomba-lomba, termasuk kerja sama dengan LSM sekitar. Tidak hanya itu, Balai juga mempunyai program sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah di sekitar kawasan Borobudur. (ly/dikbud)

G+

Anda baru saja membaca artikel tentang Warisan Budaya Dunia Harus Miliki Outstanding Universal Value. Jika Anda menyukai Artikel ini, Silahkan masukan email anda dibawah ini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel terbaru dari 60Menit.com
feedburner

0 komentar:

Cari Apa Saja di 60Menit.com

60Menit.com © 2016. All Rights Reserved.
Template Oleh SEOCIPS | Creative by abiShalih