JAKARTA - Menteri Agama RI Suryadharma Ali me-launching Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (SPAN-PTAIN) dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (UM-PTAIN) di Aula Kemenag Thamrin, Selasa (7/1).  Dalam arahannya, Menag menegaskan bahwa pengembangan PTAIN harus memperhatikan aspek pemerataan pelayanan pendidikan Islam di seluruh Nusantara. 

"PTAIN di Indonesia bagian timur, persyaratannya tidak harus disamakan dengan di Jawa. Karena jika itu dilakukan, tidak akan ada IAIN di sana. Kita akan mempermudah proses STAIN menjadi IAIN di Indonesia bagian timur," tegas Menag.

"Meski demikian, kita tidak akan mengorbankan kualitas. Untuk itu, saya meminta tolong kepada Bapak Nur Syam (Dirjen Pendis) untuk mencari formulasi yang tepat. Harus dipersiapkan yang baik," tambahnya.
Menag meminta para rektor UIN dan IAIN, serta para Ketua STAIN yang berkumpul dalam kesempatan ini untuk berdiskusi tentang model pelayanan pendidikan PTAIN yang baik dan tepat. Selain itu, Menag juga berharap dapat dirumuskan formulasi PTAIN yang berkelas dunia. 

"Impian saya, ke depan, ada UIN yang world class," tantang Menag.

Di hadapan para pimpinan PTAIN dan pejabat Ditjen Pendidikan Islam, Menag juga meminta agar dirumuskan model hubungan kerja sama yang saling menguntungkan antara PTAIN dengan mitra Kemenag, baik itu Bank Penerima Setoran (BPS) Biaya Penyelenggaran Ibadah Haji (BPIH), maupun Islamic Development Bank (IDB). 

"Rumusan yang dihasilkan harus dapat merealisasikan peluang yang ada dan bisa kita kerjasamakan, agar perkembangan PTAIN bisa dipercepat," pinta Menag.

Menurut Menag, hal ini harus dilakukan, karena anggaran PTAIN terbatas. Pada 2013 lalu misalnya, ada 366.946 calon mahasiswa yang mendaftarkan diri di PTAIN, namun daya tampung kita baru 98.552 mahasiswa. Akibatnya,  banyak calon mahasiswa yang tidak tertampung.

Menag menyatakan bahwa out-put lulusan lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag sejajar dengan lulusan sekolah umum. "Saya dengar sendiri dari Rektor IPB, bahwa sedikitnya ada empat lulusan IPB tahun ini yang berasal dari madrasah dan pondok pesantren yang diwisuda dengan IPK 4,0. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan" tambah Menag.

Menag juga berjanji akan terus mengupayakan agar para mitra Kemenag dapat ikut serta memperhatikan pendidikan, baik di madrasah, pondok pesantren, maupun di PTAIN. "Minimal, kita mempunyai 20 Bank penerima setoran dana haji. Saya sudah bertemu dengan para pemimpinnya, kita bicara dari hati ke hati," tutur Menag.

"Saya sudah menceritakan kondisi pendidikan di Kemenag yang sangat membutuhkan uluran bantuan. Kita hanya meminta sebagian dana CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan mereka kok. Dan alhamdulilah, pihak mitra bersedia memperhatikan kita," imbunnya.

Menga mengaku sudah  mengusulkan kepada pimpinan BPS-BPIH agar dapat berkontribusi terhadap masalah-masalah keumatan. "Mereka bisa berparatisipasi dalam bidang sarana prasarana pendidikan, kemudian memberi kesempatan pada mahasiswa kita untuk magang di bank mereka. Juga, memberi beasiswa kepada mahasiswa kita,"beber Menag.

SPAN-PTAIN dan UM-PTAIN dilaksanakan berdasarkan UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, PP No 66 tahun 2010 tentang pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, Permendiknas No 34 Tahun 2010 tentang Pola Penerimaan Mahasiswa Baru dan KMA No 28 Tahun 2010. Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Mudjia Raharjo menggantikan posisi Rektor UIN Malang sebelumnya yakni Prof Imam Suprayogo sebagai ketua panitia pelaksana/seleksi SPAN-PTAIN dan UM-PTAIN Tahun 2014.(Ly/depag)

G+

Anda baru saja membaca artikel tentang Menag: Pengembangan PTAIN Harus Perhatikan Aspek Pemerataan. Jika Anda menyukai Artikel ini, Silahkan masukan email anda dibawah ini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel terbaru dari 60Menit.com
feedburner

Cari Apa Saja di 60Menit.com

60Menit.com © 2016. All Rights Reserved.
Template Oleh SEOCIPS | Creative by abiShalih