SELAMAT DATANG DI WEBSITE 60MENIT

Saturday, September 29, 2018

Ketua DPD KNPI Kota Bandung - Ajak Mahasiswa Perangi Radikalisme Untuk Ciptakan Pemilu Berkualitas dan Damai


(Kanan)-Ketua DPD KNPI Kot. Bdg (Hendra Guntara) Sedang
Pemaparan Pada Mahasiswa (29-09-2018)

BANDUNG, 60MENIT.COM - (29-09-2018) Forum Demokrasi mengadakan Focus Group Discussion (FGD) yang bertempat di Hotel Shakti, Bandung. Dalam kegiatan tersebut, Ketua DPD KNPI Kota Bandung, Hendra Guntara beserta Ketua BPP IMA AMS, Bena Aji Satria berkesempatan memberikan materi mengenai “Peranan Mahasiswa untuk melawan Gerakan Radikalisme dan Menciptakan Pelaksanaan PILEG & PILPRES 2019 yang Berkualitas dan Damai”, Sabtu, 29 September 2018.

Pada kesempatan tersebut, Ketua DPD KNPI Kota Bandung yang sering disapa Hegun mengawali pembahasan nya dengan mengulas sejarah gerakan pemuda/ mahasiswa, dari gerakan Budi Oetomo pada tahun 1908 sampai gerakan Reformasi pada tahun 1998, sebagai bentuk refleksi atas pentingnya kontribusi gerakan pemuda/ mahasiswa dari berbagai Zaman.

“Bangsa kita adalah bangsa besar yang setiap fase perubahan nya tidak lepas dari kontribusi para mahasiswa dan pemuda. Oleh karenanya, kita selaku generasi muda harus senantiasa siap dalam menjaga kedaulatan bangsa kita dari pihak-pihak yang mencoba mengubahnya, seperti empat pilar kebangsaan yang kita miliki, yakni: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945”, ujarnya.


Disis lain, Hegun juga mengajak para mahasiswa dan pemuda untuk ikut andil dalam menginfiltrasi paham-paham radukalisme yang hari ini mulai tersebar melalui sektor pendidikan.

“Jihad yang sesungguhnya bukanlah melakukan bom bunuh diri, karena tidak ada satu agamapun yang menghalalkan darah sesama bangsa. Tapi jihad sesungguhnya adalah bagaimana kita selaku generasi muda mampu ikut serta dalam menangkal berbagai macam paham yang dapat mengancam persatuan dan mengubah ideologi bangsa kita”, ungkapnya.

Bena aji, selaku Ketua Umum BPP IMA AMS menyampaikan bahwa dalam upaya menangkal gerakan radikalisme, mahasiswa/ pemuda harus memahami apa itu radikalisme dan bagaimana pola penyebaran nya. Radikal itu tidak harus selalu dikonotasikan dengn negtif. Karna berpikir radikal bisa juga diartikan berpikir secara mendalam. Tapi gerakan radikalisme yg dimaksud hari ini berkonotasikan negatif, karena gerakan radikalisme berujung pada terorisme.

“Kita sepakat bahwa Gerakan Radikalisme saat ini menjadi polemik, dan dinilai sebagai ancaman nyata bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”, ujarnya.

Mahasiswa sebagai agen social of change, mempunyai peranan yg sangat penting dalam menangkal gerakan tersebut, salah satunya adalah deradikalisasi melalu sistem pendidikan. Seperti mengadakan dan mengikuti diskusi-diskusi kecil atau seminar agar pemahaman tentang bahayanya gerakan ini tidak semakin meluas.

“Musuh kita bersama adalah intoleransi, anarkisme, dan radikalisme yg berujung terorisme. Maka dari itu, menjadi sebuah kewajiban bagi para generasi muda untuk ikut serta dalam menangkal gerakan/ paham tersebut, khususnya yang tersebar melalui media sosial”, terangnya.

Selain itu, hegun juga menghimbau para generasi muda untuk tetap waspada akan bahaya laten radikalisme ini. Karena gerakan ini sangat mudah disebarkan melalu media sosial.

“Mengingat hari ini kita sudah memasuki tahun politik, maka seharusnya para generasi muda sudah cerdas dalam memilah-milah atas informasi yang bersebaran di media sosial. Karena bibit gerakan radikalisme bisa berawal dari media sosial, seperti informasi hoax dan ujaran kebencian”, tambahnya.

Demi menciptakan situasi PILEG dan PILPRES 2019 yang aman dan damai, diharapkan para mahasiswa mampu berdiri di garda depan dalam menginfiltrasi gerakan radikalisme, baik yang tersebar melalui media sosial maupun melalui institusi pendidikan. (Zhove)
Post a Comment