-->

Header Menu

HARIAN 60 MENIT | BAROMETER JAWA BARAT
Cari Berita

60Menit.co.id

Advertisement


Plus-Minus Tiga Kandidat Bupati Toraja Utara Jadi Ukuran Pemilih

60menit.com
Jumat, 04 September 2020
Loading...

60menit.com - Tiga Paslon ini siap bertarung pada Pilkada Toraja Utara yang akan datang.

60MENIT.COM, Toraja Utara | Menarik memang mengamati setiap ajang Pemilukada di berbagai daerah. Ada saja prilaku politik ditunjukkan peserta pilkada, baik parpol maupun pasangan kandidat. Seperti yang terjadi di Toraja Utara. Soal nama, terkait vam atau marga yang digunakan kandidat untuk menarik dan mencari dukungan masyarakat. 

Sebagai contoh, paslon Kala'tiku Paembonan-Etha Rimba Paembonan Tandipayung. Cawabup Kala' ini sesungguhnya memiliki vam atau marga patrilineal dengan sebutan 'Paembonan', bukan 'Tandipayung'. Karena nama 'Tandipayung' adalah vam patrilineal Hendry Pailan Tandipayung, sang suami. 

Karena itu, paslon ini lebih tepat dijuluki duet Paembonan-Paembonan atau Dua Paembonan. Bisa juga sebutan lain, Paembonan Kuadrat. Tapi terlepas dari itu, paslon ini pandai memilih akronim nama KALETHA (Kala'-Etha). Dengan singkatan KALETHA maka digambarkan sebagai KALETA, yang berarti Diri Kita. Ini tentu menarik karena ada 'pride' atau kebanggaan.

Namun, untuk pencerahan masyarakat lokal, meskipun vam sama, yakni Paembonan, keduanya berbeda asal kampung. Kalau selama ini vam Paembonan itu dikenal berasal dari Bori, ternyata ada juga 'Paembonan' asalnya dari Mengkendek. Seperti vam Paembonan yang melekat pada nama dr Etha Rimba. Namun Hendry sendiri, suami Etha, adalah rumpun keluarga Dende-Madandan. 

Faktor kampung leluhur suami yang menjadi pertimbangan, sehingga dr Etha kemudian memutuskan maju berpasangan dengan Kala'tiku. Issu 'Orang Selatan' dan 'Dua Paembonan' ini jadi bahan perbincangan di medsos. Hal ini, mau tak mau, membentuk opini yang dapat mempengaruhi dukungan pemilih. Issu ini menjadi titik lemah KALETA.

Apalagi soal perubahan nama dengan memakai vam suami, tidak main-main, dilegitimasi lewat sebuah putusan pengadilan, seperti viral di medsos. Ini tentu sebuah ironi bila ditilik dari motif dan tujuan dari perubahan nama 'vam' itu. Semoga bukan karena politis. Status KALETA sendiri sebagai incumbent tentu punya plus-minus. Ukurannya adalah evaluasi terhadap kinerja selama ini. Tapi ini dalam konteks KABORO'. 

Dalam hal ini, Kala'tiku Paembonan tidak sendiri. Dia bersama Wabup Yosia Rinto Kadang. Rinto kini tampil jadi Cabup dan harus berhadapan dengan Kala'tiku. Kandidat lain, Yohanis Bassang-Dedy Palimbong, keduanya walaupun paket baru, tapi wajah lama dalam kancah politik Toraja khususnya Torut. Paslon ini pun tak luput sorotan warga Torut khususnya para netizen. 

Ada saja kelemahan dari ketiga paslon yang jadi issu suguhan ke masyarakat. Ini menunjukkan 'tiada gading yang tak retak', atau sebutan lain, 'nobody is perfect'. Untuk menilai dan memilih calon dari ketiga paslon, takarannya tentu hati nurani atau kalau tidak, ada faktor 'x'. Kalau dengan 'hati nurani' pertimbangannya bisa macam-macam. Misalnya, karena penilaian objektif atau ada kedekatan emosional.

Kedekatan emosional karena faktor teman, kerabat, kolega, atau relasi utang budi masa lalu. Sedang faktor 'x' adalah sesuatu yang jadi pertimbangan sangat pribadi dan subjektif serta pragmatis. Maka itu, dalam politik tidak dikenal teman abadi, yang ada kepentingan. "Baru masyarakat sudah pintar, mereka tahu itu politik. Bahwa orang kalau sudah berkuasa biasa lupa. Jadi sebenarnya kembali lagi ke pribadi calon," tutur Antonius Ramma, Sekjen Perkumpulan WASINDO (Pengawas Independen Indonesia), baru-baru ini. 

(anto)