-->

Header Menu

HARIAN 60 MENIT | BAROMETER JAWA BARAT
Cari Berita

60Menit.co.id

Advertisement


PK Lima Keluhkan Jual-Beli Lapak Di Pusat Pertokoan Rantepao Torut

60menit.com
Rabu, 07 Oktober 2020
Loading...

60menit.com|*Marten Tammu.

60MENIT.COM, Toraja Utara | Rantepao sebagai ibukota Toraja Utara (Torut), tampaknya masih harus dibenahi terutama dari segi kebersihan dan penataan kota. Karena jika tidak, kondisi dalam kota kabupaten Torut itu akan jadi kumuh. Ini tidak sejalan dengan statusnya sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) khususnya di Sulsel.


Soal pasar dimana-mana memang menjadi salah satu sumber kesemrawutan, apalagi jika tidak dikelola dengan baik. Semisal, dalam menata para pedagang kaki lima (PKL) agar berjualan dengan tertata rapih dan tidak berebut lapak (tempat berdagang). Contoh kasus, di Pertokoan Rantepao, sekitar kawasan Art Center. Letaknya di jantung kota kabupaten Torut. 

Pusat Pertokoan Rantepao

Akibat kesemrawutan, beberapa dari PKL melakukan protes. "Masalahnya di sini soal pengaturan tempat penjual souvenir di samping belakang pertokoan yang tidak becus. Dijadikan ajang bisnis dan ajang politik pihak tertentu sehingga mengorbankan masyarakat jelata dan miskin yang seharusnya mau berusaha mencari sesuap nasi. Namun kegigihan tersebut dihalangi para pemangku jabatan tertentu," ujar Marten Tammu.


Ditemui di Pertokoan Rantepao, baru-baru ini, Marten yang akrab disapa Tammu ini, meminta, pemerintah setempat agar menata ulang dan menertibkan para PKL. Menurut bocoran awak media, diduga ada sejumlah oknum mengambil kesempatan mengintervensi lapak para PKL. Diantaranya terdapat nama seorang kepala lingkungan berinisial TSB. Nama lain yang diduga seorang oknum Dewan Torut berinisial YSB, dan ST.  

Kawasan Pertokoan Rantepao di Jl Pembangunan

"Kedua yang jadi masalah lorong pintu tengah pertokoan. Biasanya kan dimana-mana pemilik toko itu hanya berhak pakai sampai batas tokonya. Teras samping kiri, kanan dan depan itu biasanya digunakan untuk ruang publik termasuk pedagang kaki lima dan asongan. Namun apa yang kita lihat di pertokoan kota Rantepao tempat tersebut dijadikan ajang bisnis sekelompok orang kaya dengan dukungan preman," pungkas Tammu yang juga pebisnis souvernir. 


(anto)