-->

Header Menu

HARIAN 60 MENIT | BAROMETER JAWA BARAT
Cari Berita

60Menit.co.id

Advertisement


Anton Charliyan : Rekruitmen Santri utk TNI POLRI sangat Strategis, utk Antisipasi faham Intoleransi

Sabtu, 01 Januari 2022
Loading...

 


60MENIT.com-Anton Charliyan : Rekruitmen Santri utk TNI POLRI sangat Strategis, utk Antisipasi faham Intoleransi .Jumat 31/12/2021


60MENIT.com-jabar-Adanya Kebijakan untuk bisa merekrut Santri sbg calon anggota TNI & POLRI, khususnya yg di pelopori oleh jendral Dudung Abd Rachman selaku KASAD kemudian dikuti oleh Kapolri jendral Listyo Sigit prabowo.

Merupakan satu Kebijakan yang sangat tepat dan sangat strategis, karena seorang Santri selain dari segi ahlak dan prilakunya yg  baik, serta wawasan agamisnya yg yg luas, apalagi selain santri juga akan direkrut juga dari calon ahli agamis lain seperti calon rahib, calon pendeta dll, namun ada yg lebih  khususnya lagi, yaitu bisa juga nantinya diberdayakan untuk  mengantisipasi Faham2 radikalisme dan intoleransi, yg mana faham tsb saat ini sebagmana kita ketahui bersama, selalu menyusup dibalik Kedok & jubah Agama.

 sehingga setiap orang yg berusaha Melawan gerakan tsb, dg mudahnya dikatakan sebagai Anti  Agama, Kafir, Murtad , penyembah iblis dll, bahkan bisa dikategorikan sbg sorang Musyrik yg  Darahnya Halal dan Boleh utk Dibunuh.

 Begitu luar biasanya jika kekuatan agama dijadikan Benteng untuk melegalisir kepentingan2 Politik tertentu, karena dg jubah agama sesuatu yg asalnya jahatpun bisa menjadi suatu kemulyaan, bunuh diri saja  bila dikasih label jihad bisa menjadi Mulya,   mencuri sbg sebuah perbuatan hina dg label gonimah bisa menjadi baik, bahkan merampokpun dg label Fai bisa menjadi sesuatu yg Heroik, itulah pola2 yg senantiasa digunakan di berbagai negara lain, Namun sangat disayangkan dari hasil kajian sejarah, history dan exferience yg terjadi di Suriah, Mesir Afganistan dll, ujungnya ternyata hanya sebuah ambisi utk meraih tampuk Kekuasaan. 

 Berbicara tentang  Intoleransi dan Radikalisme sbgmana kita maklumi bersama, sesungguhnya yg paling berat adalah bagaimana cara memerangi & mematahkan Mindset ,  faham dan iedologi2, yg sudah tertanam kuat pada individu2 kader2  mereka yg sudah terlanjur terpapar, dengan menggunakan Dogma Agama sbg Alat masuknya, karena melalui Agama maka Antisipasinya pun, kita harus mampu Merekrut calon anggota, Yg memang akhli dlm bidang agama, dalam hal ini yg paling Tepat adalah ,tentu saja dengan merekrut Para Santri , serta calon2 Agamawan yg lain, yg betul2 Nasionalis  sebanyak2 nya. 

Kebijakan dan Program ini sesungguhnya sudah pernah Dilakukan oleh Anton Charliyan  ketika jadi Kapowil Priangan pada thn 2009, ketika itu Banyak Santri yg masuk menjadi anggota Bintara Polri dg pola Talent Scouting ( masuk di pola dilatih secara khusus dan masuk tanpa  test yg begitu panjang, namun tetap melalui prosedur yg ditentukan). 

Kemudian pada saat jadi Kapolda jabarpun pd thn 2017 sudah diajukan talent scouting utk Santri dan calon2 anggota yg Berprestasi di bidang olah raga/seni yg bertaraf nasional/international, namun tiba2 kebijakan tsb tidak bisa dilaksanakan, dipending Mabes Polri bahkan  rekrutment di jabar seakan dibikin Kisruh, dg adanya orang yg menjual nama Kapolda untuk kepentingan pribadinya. 

Yang akhirnya bahkan Kewenangan Utk merekrut calon anggota Polri, Khusus utk Polda jabar Diambil Alih Mabes Polri,  Tapi titik beratnya bukan hal tsb, justru Kemungkinan besar utk menggagalkan rekruitmen talent Scouring para Santri tsb, padahal Kapolda jabar sendiri saat itu sudah warning & sosialisasi ke Pesantren2.

 Rupanya kalau baru setingkat Kapolda kekuatannya masih bisa diintervensi oleh power yg lebih kuat, sehingga dg segala cara akhirnya Program tsb tidak terwujud. Ini menunjukan bahwa Kekuatan politik gol intoleransi tsb  sudah begitu besar. 

Inilah yg perlu kita Waspadai bersama ,agarProgram ini bisa dikawal dg seksama, yang mana Tidak menutup Kemungkinan faham dan Pengaruh elit politik Pendukung intoleransi & radikalisme tsb sudah masuk juga di tubuh TNI dan POLRI. Bahkan salah satu kebijakan Kapolda jabar saat itu berupa Penataran singkat selama kurang lebih 3 hari di Alam terbuka,  tentang wawasan anti intoleransi dan radikalisme yg dikenal sbg program Sawala Kebangsaan Polda jabar , dari Rencana 12 Kali kegiatan Penataran khusus utk elemen2 dan tokoh2 masyarakat , baru 3 kali saja dilaksanakan, dibikin Kisruh juga , dg segala alasan yg dibuat2 agar ditunda sementara kegiatanya. Ini untuk ke dua kalinya mereka menunjukan powernya, agar apapun bentuk2 kegiatan yg dianggap akan melawan gerakan Intoleransi dan radikalisme harus di hentikan sesegera mungkin. 


Tapi jika Gerakan kali ini sudah didukung Penuh dg full Power oleh Pimpinan TNI & POLRI, yakni Kapolri, KASAD & Panglima TNI , kami yakin akan berjalan mulus, dan mereka pun akan berpikir Seribu kali untuk bisa menghalangi dan menggagalkannya. 


Maka dari itu ketika di konfirmasi awak Media Anton charliyan yg pernah jadi Kapolwil priangan thn 2009 dan Kapolda jabar thn 2017 ini, mengatakan sangat mendukung program tsb dg 2 jempol ditangan, dng Syarat yg di rekrut harus betul Santri yg 100% Nasionalis tulen, serta jika memungkinkan di buat secara kontinue Tiap tahun tetap ada . 

Sehingga ada kesinambungan Program, jangan sampai begitu Jendral Dudung Lengser otomatis nanti Programnya pun ikut hanyut entah kemana... maka dari itu program tsb harus dijadikan Program Routin yg tetap, baik di TNI Maupun di POLRI, Insya Allah dg adanya Program tsb Faham2 Intoleransi dan Radikalisme sedikit demi sedikit, akan mulai terkikis di NKRI tercinta ini. 

Untuk itu saya juga mohon dukungan moral nya kpd para Tokoh ulama, Akademisi, para tokoh dan Pakar yg lain utk ikut  juga mendukung Program strategis yg sudah dilontarkan oleh Pimp TNI dan POLRI tsb, karena sepertinya Program ini, seperti kecil dan Sederhana tapi Jika tidak betul2 Dikawal, bisa tahu2 Lenyap ditengah jalan. Saya bisa bicara begini karena saya pernah mengalaminya sendiri langsung. " Begitu pungkas Abah Anton menutup Pembicaraanya dengan Tim Redaksi kami.


#Asep dhalank