-->

Header Menu

HARIAN 60 MENIT | BAROMETER JAWA BARAT
Cari Berita

60Menit.co.id

Advertisement


Tana Toraja Raih Peringkat "Kanjolli'" Penilaian Kinerja Penurunan Stunting Terintegrasi Di Sulsel

60menit.com
Selasa, 20 Oktober 2020
Loading...

60menit.com | Benyamin Tipasara'pang.

60MENIT.COM, Tana Toraja | Di luar dugaan, Kabupaten Tana Toraja (Tator) ternyata meraih peringkat "kanjolli'" alias paling rendah dari 9 (sembilan) kabupaten/kota di Sulsel dalam penilaian kinerja terkait Lokus Pelaksanaan Konvergensi Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi tahun 2020, berdasarkan SK Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 2342/X/Tahun 2020.


Peringkat masing-masing daerah otonom yang mendapat penilaian tersebut, adalah, antara lain, peringkat I kabupaten Gowa dan Takalar dengan skor sama, yakni 38, disusul peringkat II kabupaten Sinjai, Jene'ponto dan Toraja Utara dengan skor 37, kemudian Pinrang peringkat III dengan skor 36, Pangkep peringkat IV skor 33, Selayar skor 32 sebagai peringkat V, dan juru kunci ditempati kabupaten Tana Toraja.


Dengan hasil yang diraih ini, maka Pemda Tana Toraja setidaknya dinilai gagal dalam melaksanakan sebagian program yang ada di bidang kesehatan khususnya menyangkut penanganan Stunting (Gizi Kronis) sebagaimana dicanangkan pemerintah pusat. Ini juga tidak sinkron dengan program Pilar Pembangunan sebagai program unggulan Nicodemus Biringkanae-Victor Datuan Batara (NIVI).


Program NIVI yang bertagline "Jangan Biarkan Rakyat Sakit" tersebut tampaknya hanya lip service karena kegagalannya dalam menangani Stunting. Masalah ini paling tidak berdampak pada NIVI sebagai pasangan calon incumbent pada Pilkada Tana Toraja Desember mendatang. "Ini bisa jadi salah satu parameter masyarakat masih mendukung dan memilih incumbent atau tidak. Saya kira ini tantangan bagi NIVI," ujar Benyamin Tipasara'pang kepada awak media ini, via WA, Selasa (20/10). 


Lebih jauh, pengamat politik lokal ini, mengatakan, sebagai petahana, NIVI memang harus berjuang ekstra mempertahankan singgasananya agar tetap bertahan dan memenangkan kontestasi. "Memang sudah begitu, ibarat tinju, lebih berat mempertahankan juara daripada merebut juara. Sama halnya NIVI tentu berat. Beda dengan penantang lebih ringan dan enteng, apalagi tanpa beban," pungkasnya. 

(anto)