JAKARTA - Tiga belas utusan resmi Pemerintah Kerajaan Thailand, didampingi para pemimpin/tokoh berbagai agama di Thailand seperti Budha, Hindu, Islam, Singh, dan Nasrani berkunjung ke Kemenag Lapangan Banteng, Rabu (19/3).

Mereka disambut Sekjen Bahrul Hayat, Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil, Dirjen Bimas Budha Joko Wuryanto, Ketua Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Mobarok dan beberapa Tokoh Agama.

Dalam kesempatan tersebut, Sekjen Kemenag Bahrul Hayat menyampaikan bahwa kerukunan umat beragama di Indonesia telah terjalin dalam waktu yang lama dan terjaga dengan baik.

“Indonesia adalah sebuah negara unik. Kami bukan negara yang berdasarkan agama. Namun kami juga bukan negara sekular. Kami adalah negara hukum yang berdasarkan atas Pancasila dan UUD 45. Pancasila mengajarkan lima sila (prinsip), yakni Ketuhanan, Kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan sosial. Sedang UUD kami menjamin kebebasan beragama dan beribadatan-nya” terang Sekjen.

Keunikan lainnya, lanjut Bahrul, meski mayoritas penduduk kami adalah Suku Jawa, namun kami memakai Bahasa Indonesia (Melayu) sebagai bahasa persatuan. Bahrul menegaskan bahwa umat beragama di Indonesia hidul saling menghargai, baik intern maupun antar umat beragama.

“Islam dipeluk sekitar 87,18 %, yakni sekitar 207.176.162 jiwa. Kristen dianut 6,96 %, atau sekitar 16.528.513. Sementara Katolik berjumlah 6.907.873 jiwa (1,69 %), Hindu 4.012.116 jiwa; Budha 1.703.254 jiwa (0,72 %), Konghuchu 117.091 (0,05 ) dan penganut lainnya sekitar 1.196.317 (0,50). Kami semua saling menghargai” urai Bahrul.

Meski Islam mayoritas, tambah Bahrul, tapi kami saling menghargai dan bekerja sama dengan penganut agama/kepercayaan lainnya. “Kami juga mengelola pendidikan, dari mulai pendidikan dini (RA), hingga pendidikan tinggi (perguruan tinggi),” tambahnya.

Dalam dialog, perwakilan Budha menguatkan pernyataan Bahrul Hayat. “Meski Budha minoritas, tidak ada 1 %, namun kami hidup rukun dan bersama dengan penganut agama atau kepercayaan lainnya. Kami mampu hidup rukun dan bersama-sama,” ungkapnya.

“Kerukunan sangat penting untuk hidup bersama-sama dan bekerja sama. Dan kami berkumpul-kumpul lintas agama, duduk bersama, sudah terbiasa. Beginilah kondisi kerukunan umat di Indonesia yang bisa disampaikan kepada Raja dan Pemerintah Thailand. Kami hidup rukun dan nyaman. Bahkan kami bebas menjalankan ibadah kami dan menikmati pendidikan khas Budhis di sini,” tambahnya.

Dikatakan juga bahwa kerukunan ini merupakan sebuah kesepakatan para foundingfathers bangsa Indonesai yang merangkumnya pada Pancasila dan UUD’45. Hal ini bisa dijadikan semacam inspirasi.“Mungkin prinsip teman-teman muslim adalah; yang besar harus melindungi yang kecil” tambahnya.

Senada dengan itu, Perwakilan Hindu Dharma menegaskan bahwa Indonesia terus membangun dan menjaga kerukunan antarumat beragama. “Kami saling menjaga. Yang mayoritas mengayomi minoritas. Semoga kerjasama dua negara ini bisa lebih baik“harapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sekjen Bahrul Hayat juga menerangkan secara detail wajah Kemenag, mulai dari tugas dan peran kementerian, termasuk terkait pengelolaan jamaah ibadah haji Indonesia yang mencapai 200 ribu jamaah lebih.

Para tamu dari Thailand tampak antusias dengan beragam informasi yang mereka peroleh terkait cara dan pendekatan Indonesia dalam menjaga keutuhan negara dan merajut terus kerukunan. (G-penk/mkd/mkd)

G+

Anda baru saja membaca artikel tentang Utusan Thailand Studi Banding Kerukunan di Kemenag. Jika Anda menyukai Artikel ini, Silahkan masukan email anda dibawah ini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel terbaru dari 60Menit.com
feedburner

0 komentar:

Cari Apa Saja di 60Menit.com

60Menit.com © 2016. All Rights Reserved.
Template Oleh SEOCIPS | Creative by abiShalih