Header Ads

Galih - Masyarakat Jangan Ragukan Sterilitas RPH Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung


Galih Pra Asih (Sekdis DPP Kot. Bandung)

BANDUNG, 60MENIT.COM - (27-09-2018) Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung, terdapat Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang mana hewan yang dipotong adalah hewan besar yaitu sapi dan babi, hal ini sempat menjadi polemik dan pembicaraan warga yang menyudutkan dinas terkait.

Media yang tergabung di Jurnalis Peduli Citarum Harum (JPCH) dan Aliansi Media Masa Nasional Indonesia (AMMNI) dalam Pendampingan Satgas Citarum mengunjungi Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung yang terletak di Jl. Arjuna Kota Bandung, terkait bau yang yang sedap dalam waktu tertentu dan adanya campuran kotoran hewan ketika datangnya hujan, Selasa (25-09-2018).

Endang Priatna
Ketika dalam pemaparannya Kepala UPT Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Endang Priatna, menyampaikan, "Untuk limbah Pemotongan Hewan Jenis Sapi, kami salurkan via IPAL yang ada, adapun limbah padat kami sudah kontrak pihak ketiga bidang angkut buang limbah tersebut ke pembuangan akhir yang sudah ditentukan boleh Pihak ke tiga tersebut, jadi itu urusannya dengan pihak ke tiga yang memang benar adanya kami mengetahui" Ucapnya.

Lanjut Endang (Panggilan Akrab Kepala RPH) "Permasalahan gorong gorong ini sayapun tidak tahu kapan dibuatnya, yang mungkin sejak jaman Belanda gorong gorong ini sudah ada, dan bermuara dimana saya pun tidak tahu sampai dimana dan kemana arahnya, hanya yang jelas gorong-gorong tidak kami jadikan pembuangan, kalaupun sempat membludak saat banjir memang saat ini kami mau rehab IPAL di bulan depan sesuai anggaran perubahan" imbuhnya.

Keluhan warga setempat (Rw.08) yang telah media 60menit.com serta tim investigasi JPC-AMMNI konfirmasi, "Rasa bau itu sudah biasa tercium, tapi lama kelamaan bikin mual apalagi ketika badan lagi tidak feet, dan lebih parahnya lagi jika musim hujan tiba dan Banjir Cileuncang, airnya itu berwarna gelap kemerah-merahan, yang kami takutkan ada darah binatang yang diharamkan oleh agama" ujar warga yang tidak disebut namanya.

Sekdis Dinas Pangan dan Pertanian (Galih Pra Asih) mewakili Kadis yang kebetulan lagi tugas luar, menyampaikan, "Mengenai limbah babi,  darah babi yang yang keluar dari proses pemotongan tidak banyak, karena proses pemotongannya melalui pemingsanan dengan dipukul bagian kepala dan ditusuk pada bagian Vena Jugularis di bagian leher sehingga darah yang dikeluarkan sangat sedikit. Darah ditampung oleh pengusaha untuk dijadikan olahan ”Marus" dan dijual di pedagang daging babi & lapo tuak" Tegasnya.

Searah jarum jam " Kol Inf Asep Rahman, Galih Pra Asih, Eva "

"Limbah cair yang keluar dari RPH Babi hanya limbah berupa sisa pembersihan ruang pemotongan hewan yang dialirkan ke “IPAL Sederhana” yang ada di RPH Babi" Ibuh Sekdis.

Melihat pernyataan diatas antara Kep. RPH dan Sekdis limbah yang keluar dari RPH Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung sudah memadai atau layak buang, adapun Maslah luber ketika hujan datang IPAL ini menuju perbaikan yang sudah dianggarkan pada anggaran perubahan dan sudah ACC dari DPRD Kota Bandung.

Masalah gorong-gorong yang ditelan bumi (istilah redaksi) memang betul adanya, karena pembangunan ini dikerjakan pada jaman Belanda hingga lay out dari gambar rencana ini Sudak tidak ada arsipnya, maka saluran gorong-gorong ini pun tidak dipakai untuk Pembuangan Limbah karena takut berisiko yang tidak ketahui ujung rimbanya, kemungkinan salurannya sudah tertutup lumpur.

Himbauan kepada masyarakat jangan meragukan Kebersihan atau Sterilitas pada RPH Dinas Pangan dan Pertanian, karena sudah diperhitungkan sedemikian rupa dalam pelaksanaan pemotongan dan pemeliharaan hewan yang ada di Dinas ini. (Zhovena)
Post a Comment