-->

Header Menu

HARIAN 60 MENIT | BAROMETER JAWA BARAT
Cari Berita

60Menit.co.id

Advertisement


Incenerator MOSS Multiguna Terpadu Mandiri Ramah Lingkungan (TMRL)

60menit.com
Selasa, 26 November 2019

60menit.com - Ir. H. Agus Ganda Permana, MT
60MENIT.COM, Bandung - Salah satu implementasi teknologi yang dibuat Tel-U dalam Program KKN Tematik Citarum Harum 2018 adalah pembuatan incenerator “Mesin Olah Sampah Setempat (MOSS)” yang multi guna, terpadu dan mandiri. Incenerator ini digunakan untuk jenis sampah organik dan anorganik, non kaleng atau logam dan gelas. Pembuatannya pun tidak lama, hanya sekitar 1 - 2 bulan, yang meliputi, modul sistem pembakaran, modul Air Washer Unit (System Treatment limbah dan asap), modul kabin dan chasis mobile mesin, sistem kontrol dan monitoring Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS), biaya operasional pengoperasian MOSS multiguna dan Smart Trash SW Applications.
60menit.com - Beberapa Mesin Olah sampah yang telah di bangun di beberapa lokasi 
"Incenerator model MGU ini dirancang sedemikian rupa, agar sistem compact, terpadu mandiri, multi fungsi dan multiguna. Kemudian alat ini juga ramah lingkungan, serta smart dengan pengoperasian yang mudah dan memiliki biaya operasional dan pemeliharaan yang ringan. Jadi, selain dapat membantu mengatasi permasalahan sampah, juga mengatasi kebutuhan pupuk organik, pakan dan energi dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat,” ungkap Ketua tim pembuatan incenerator sampah MOSS, Ir. Agus Ganda Permana, MT.

Kendati dibuat dalam waktu singkat, menurut Agus, ada beberapa kendala dalam pembuatan incenerator sampah ini. Antara lain, pembiayaan penelitian produk, tools hingga jumlah SDM yang berkecimpung dalam penelitian di area Smart MOSS Multiguna TMRL (Terpadu Mandiri Ramah Lingkungan) dan Smart TOSS TMRL. Tantangan lain datang dari warga sekitar bantaran sungai Citarum yang awalnya pesimis dan menolak kehadiran incenerator sampah MOSS.


60menit.com - Salah satu Incenerator yang sedang dibangun di Desa Sukamukti yang masuk di wilayah tugas sektor 7 Citarum harum

"Ini terkait residu yang dihasilkan dari proses pembakaran, terutama pencemaran asap, debu dan lindi, serta terjadi penumpukan sampah di lokasi pengolahan sampah tersebut. Namun, kami memberi penjelasan pada warga bahwa MOSS ini dioperasikan sesuai kapasitasnya per hari. Sampah yang diangkut pun sesuai dengan kapasitas MOSS per harinya. Dan kami pun akan selalu mengkaji dan menumbuh kembangkan fungsi, manfaat, serta sistem pemberdayaannya menjadi Smart MOSS Multiguna TMRL", ujar nya

Ir. Agus melanjutkan, sosialisasi yang disampaikan tim KKN Tematik Citarum Harum membuahkan hasil. Pasalnya, warga mulai merasakan fungsi dari incenerator MOSS. Bahkan, tim Tel-U pun diminta untuk menerapkan konsep MOSS Multiguna TMRL ini di kawasan Pesantren Al-Falah, Kab. Bandung yang lokasinya berdekatan dengan area dapur umum. Wilayah ini juga masuk di daerah tugas dari satgas Citarum harum sektor 21, dan ada juga yang di wilayah Kota Cimahi. Selain itu diwilayah Desa Sukamukti juga sedang dibangun Incenerator tersebut, wilayah ini masuk di sektor 7 Satgas Citarum harum

60menit.com - Incenerator yang terbangun di Kawasan Ponpes Al-Qur'an Al - Falah Nagreg
"Ini tantangan tersendiri bagi kami yang menamakan incenerator ini sebagai Smart MOSS TMRL. Ke depannya, Smart MOSS TMRL ini akan terintegrasi dengan sistem kontrol dan monitoring terpusat berbasis aplikasi Internet of Things (IoT), menggunakan energi terpadu berbasis energi baru terbarukan. Jadi, diharapkan dari Smart MOSS TMRL ini akan menuju Smart TOSS TMRL, Smart Pondok Pesantren Al-Falah, Smart lingkungan, hingga Smart Village",  terang Agus.

Agus mengakui, incenerator Smart MOSS TMRL yang sudah dibuat baru sampai tahap fungsi membakar. Untuk pengolahan asap, panas, uap air, abu dan lindi yang dihasilkan dari pembakaran, perlu dianalisa lebih lanjut, guna mengetahui tingkat kebermanfaatannya menjadi energi listrik, pupuk, pakan, bahan bangunan dan lain-lain. Untuk itu, ia berharap program KKN Tematik CItarum Harum ini dapat dilanjutkan guna menumbuhkembangkan inovasi dan kreativitas civitas academica, serta memberdayakan perguruan tinggi dan masyarakat secara berkesinambungan.
60menit.com - H. Agus Ganda Permana saat berada di MOOS Desa Sukamukti
"Konsep Smart MOSS TMRL ini dapat mewujudkan lingkungan yang smart sebagai bagian dari Smart Village, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sarana dan prasarana Living Lab terpadu. Implementasi konsep Smart Village terpadu ini, diwujudkan dengan membangun sistem informasi dan komunikasi multimedia yang dilengkapi fasilitas CCTV (Circuit Closed Television), lampu jalan otomatis, Wi-Fi, aplikasi IoT dengan program-program terapan seperti panic button, telepon darurat, informasi layanan publik (puskesmas, bidan, pom bensin, bengkel) terdekat, Smart TOSS TMRL, Smart MOSS Multiguna, etalase warung Wi-Fi, e-games, smart café dan sebagainya", jelas Agus

Untuk mewujudkan Program Desa Digital Aplikasi Smart Village Terpadu ini, disponsori oleh PT. SIMAYA Jejaring Mandiri dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Sementara ide aplikasi software dan hardware serta infrastruktur jaringan (Jaringan Optik dan Wireless) disediakan oleh PT. Megah Ganda Utama, serta aplikasi konten tim civitas academica Tel-U. Aplikasi Smart Village Terpadu merupakan aplikasi berbasis android untuk memberikan kemudahan dalam mengendalikan piranti/device/alat yang terpasang dan terhubung ke jaringan internet/intranet yang dilengkapi networks operation control, command center software, call center dan lain-lain yang dipusatkan di kantor desa dan dapat di-remote NOC program studi teknologi Tel-U.

"Ada tiga tujuan dari program Smart Village Terpadu. Pertama, mengoptimalkan produktivitas mata pencaharian mayoritas masyarakat melalui pemanfaatan TIK. Kedua, mengoptimalkan harga jual hasil produksi masyarakat melalui pemanfaatan TIK. Terakhir, mengoptimalkan kualitas hidup masyarakat pada bidang lingkungan, kesehatan, pendidikan, keamanan dan komunikasi melalui pemanfaatan TIK. Fungsi sistem ini dirancang dan dibangun sedemikian rupa berbasis ciri khas masyarakat desa dan kearifan lokal serta dipahami masyarakat. Jadi, dapat dimanfaatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan atau aktivitas seperti UKM, petani, peternak, perajin (industri kreatif), untuk memasarkan produk-produk mereka secara online atau mencari sumber pengetahuan terkait perkembangan harga pasar, informasi bibit atau bahan baku produksi yang murah, serta hal-hal lain terkait usaha mereka", pungkas Ir. H. Agus Ganda (T.Pro)