-->

Header Menu

HARIAN 60 MENIT | BAROMETER JAWA BARAT
Cari Berita

60Menit.co.id

Advertisement


Dua Proyek Jalan Rp4 Miliar di Perangian Disorot: Diduga Dikerja Asal-asalan, Kualitas Dipertanyakan

60menit.com
Minggu, 03 Mei 2026

Dua Proyek Jalan di Ruas Jalan Perangian, Lembang Ampang Batu, Kecamatan Rindingallo, Toraja Utara, dikerja dalam satu tahun anggaran, 2025, dengan sumber dana berbeda, APBD Toraja Utara dan Dana Hibah Prov. Sulsel. (dok. 60menit.com)


60Menit.com, Jakarta | Dua proyek pembangunan jalan tahun anggaran 2025 di ruas Perangian, Lembang Ampang Batu, Kecamatan Rindingallo, Toraja Utara, menuai sorotan tajam. Proyek dengan total anggaran lebih dari Rp4 miliar itu terindikasi dikerjakan tanpa standar kualitas yang memadai.


Dalam satu ruas jalan tersebut, terdapat dua paket pekerjaan berbeda, yakni perkerasan jalan senilai Rp1,68 miliar yang bersumber dari APBD Toraja Utara dan rabat beton jalan senilai Rp2,46 miliar dari dana hibah provinsi. Masing-masing proyek dikerjakan oleh kontraktor berbeda, yakni CV Karya Maseroh Abadi dan CV Adhy Tama, dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Ardiantomo Parantean.


Temuan di lapangan menunjukkan indikasi kuat lemahnya pengawasan dan mutu pekerjaan. Permukaan rabat beton yang baru selesai dikerjakan dilaporkan sudah mengalami pengelupasan, hingga memperlihatkan agregat batu di dalamnya. Kondisi ini diduga akibat campuran material yang tidak sesuai standar, khususnya kekurangan semen.


Kepala Dusun Ratte, Matius Belo, mengungkapkan bahwa persoalan kualitas sudah terlihat sejak proses pengerjaan. Ia mengaku sempat mengingatkan pekerja terkait campuran beton yang dinilai kurang semen. Namun, peringatan tersebut tidak konsisten ditindaklanjuti. “Kalau diingatkan mereka tambah, tapi setelah itu kembali lagi kurang. Ini yang jadi masalah,” ujarnya.


Pekerjaan Rabat Beton di Ruas Perangian, Ampang Batu, Rindingallo, Toraja Utara. (dok. 60menit.com)

Ia juga menyoroti penggunaan alat pencampur (mixer) yang dinilai tidak menghasilkan kualitas sebaik metode manual yang biasa dilakukan masyarakat. Menurutnya, pekerjaan yang melibatkan warga justru lebih rapi dan kuat karena ada rasa tanggung jawab terhadap jalan yang digunakan sehari-hari.


Tak hanya pada rabat beton, pekerjaan perkerasan jalan juga menuai kritik. Dari hasil pantauan, material batu tampak tidak padat dan mudah terlepas hingga berserakan ke bahu jalan. Minimnya pemadatan membuat konstruksi jalan diragukan daya tahannya, terutama saat musim hujan.


Matius bahkan memperingatkan bahwa kondisi jalan berpotensi cepat rusak dan sulit dilalui jika curah hujan tinggi. “Kalau hujan, bisa jadi lumpur semua. Ini belum banyak kendaraan lewat saja sudah begitu,” katanya.


Indikasi masalah pada proyek ini sebelumnya juga telah dilaporkan warga melalui dokumentasi foto yang dikirim ke media. Temuan tersebut mendorong jurnalis turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan.


Perkerjaan Perkerasan Jalan di Ruas Perangian, Ampang Batu, Rindingallo, Toraja Utara. (dok. 60menit.com)


Menanggapi hal ini, PPK Ardiantomo Parantean menyatakan pihaknya telah melakukan pengecekan dan mengirimkan surat kepada kontraktor untuk segera melakukan perbaikan. Ia juga mengaku masih menahan sebagian pembayaran sebagai bentuk tekanan agar perbaikan dilakukan. “Kami sudah cek dan minta rekanan memperbaiki. Pembayaran juga masih ada yang ditahan,” ujarnya.


Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa persoalan kualitas belum sepenuhnya tertangani. Kasus ini mempertegas pentingnya pengawasan ketat dan akuntabilitas dalam pelaksanaan proyek infrastruktur, terutama yang menyangkut kepentingan publik.


Jika dugaan pengerjaan asal-asalan ini terbukti, maka bukan hanya berpotensi merugikan keuangan daerah, tetapi juga membahayakan keselamatan masyarakat pengguna jalan. Pemerintah daerah dan instansi terkait didesak tidak berhenti pada teguran administratif, melainkan melakukan audit menyeluruh dan penindakan tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab.


 (anto)